Posted on: August 31, 2020 Posted by: admin Comments: 0
Seniman Miftah Rizaq Gelar Pameran Tunggal

Sebanyak 25 lukisan bergaya abstrak ditampilkan seniman Miftah Rizaq dalam Pameran Terpenjara : Sebuah Perjalanan untuk Kembali Pulang.

Miftah Rizaq, seorang seniman yang kini menekuni seni abstrak menyelenggarakan pameran tunggal karya-karya terbarunya. Aktivitas pameran karya lukisnya berupa Solo Exhibition “Hitam Diatas Putih” pada 2013 di Semarang dan Solo Exhibition “Sahabat Pensil” pada 2014 di Salatiga. 

Karya-karya Miftah yang khusus dipersiapkan pada pameran tunggal, yang berlangsung pada 29 Agustus – 13 September 2020 di Galeri dan Kafe Tiga Roepa. Situasi area pameran yang dikemas seperti sel penjara dengan beberapa simbol yang diletakkan di sana.

Cerita di Balik Karya

Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran kali ini, lahir dari latar belakang peristiwa kelam dalam keluarga besarnya. Peristiwa yang berakibat pada satu perasaan yang sama, yakni keterpisahan. Suatu perasaan yang kemudian membangkitkan keputusasaan. Suatu perasaan tidak berguna karena ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang menimpa keluarganya.

Masalah yang terjadi kepada Miftah berawal dari kasus yang menimpa Ayahnya, yang demikian memukul batinnya. Sebagai anak tunggal, ia tidak memiliki saudara kandung untuk berkeluh-kesah ataupun berembuk.

Ia hanya mampu berdialog dengan Ibu dan istrinya yang berujung pada perdebatan, selebihnya menyalahkan dirinya sendiri. Kehidupannya menjadi liar hingga berujung pada perpisahan dengan keluarga kecilnya, terutama dua anak yang sangat disayanginya.

Namun secara tiba-tiba Miftah melakukan suatu hal yang luar biasa, yaitu pengalihan emosi dan keputusasaan menjadi suatu energi positif untuk menyalurkannya melalui mediasi seni. Apakah media ekspresi seni yang dipilihnya bisa meluapkan emosinya secara bebas? Apakah segala permasalahan yang menimpa keluarga besarnya merupakan inspirasi yang kemudian diekspresikan menjadi sejumlah lukisan abstrak sudah sesuai sesuai dengan emosinya?

Miftah memang merasa “terpenjarakan” oleh perasaannya sendiri sehingga memerlukan semacam “pengalihan” emosinya.  Di sinilah titik penting pameran tunggalnya kali ini. Yaitu suatu temuan bahwa suatu emosi keterputusasaan bisa menjadi energi positif dalam menumbuhkan semangat berkarya. Ketika alam ketidaksadaran berhasil dikelola oleh alam kesadaran, pada akhirnya mampu melahirkan karya-karya lukisan abstrak. Karya ini menjadi buah dari kebangkitan semangat dan daya kreativitasnya. 

Jenis lukisan yang dipilih Miftah dalam menyalurkan emosi ketidaksadarannya adalah lukisan bergaya abstrak. Karya-karya lukisan abstrak Miftah bertitik tolak dari masalah kejiwaan yang menimpa dirinya.

Analisa Kurator

Dalam menganalisis karya-karya seni abstraknya, A.A. Nurjaman yang merupakan kurator Pameran Terpenjara menggunakan metode psikoanalisis sesuai titik masalah yang menginspirasinya. Frustasi, histeria, phobia telah menjadi gangguan neurosis, berupa kecemasan, kehilangan dan kekhawatiran menjadi suatu penyakit serius pada kestabilan jiwanya.

Represi akibat datangnya berbagai tekanan yang menimpanya secara beriringan dan terus-menerus. Represi ini telah menimbulkan ambivalen dari dua perasaan yang sama-sama kuat di dalam pikirannya. Di satu sisi ingin melakukan sesuatu, sementara di sisi lain menolaknya.

Berdasarkan kejadian-kejadian mengenaskan yang dialami langsung oleh Miftah dan keluarga besarnya, maka proses kuratorial pameran ini menggunakan pendekatan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Pendekatan ini berpijak pada mekanisme dasar psikis manusia.

Karya-karya Miftah bisa dianalisis melalui teori psikoanalisis sehubungan dengan beberapa tindakan yang hampir fatal akibatnya. Antara lain pernah duduk di tengan jalan rail menunggu kereta yang akan mengakhiri hidupnya. Di lain waktu ia juga pernah naik ke atas bukit dan berniat menjatuhkan diri dari ketinggian tebing. Atau menenggak minuman beralkohol setiap mengingat permasalahan yang menimpa keluarganya.

Beruntung Miftah sadar, bahwa di balik beberapa peristiwa yang menghanyutkan sampai ke alam bawah sadarnya, ia memiliki potensi dalam berkarya seni.

Baca Juga : Timbul Raharjo Gelar Pameran Tunggal di Museum Sonobudoyo

Mengenal Miftah Rizaq

Miftah Rizaq dilahirkan di Semarang dari keluarga Bapak Muhammad Abdul Ghani. Ia sempat mengenyam pendidikan hingga ke tingkat Perguruan Tinggi (Politeknik Negeri Media Kreatif) jurusan Periklanan/Advertising. Semenjak tingkat SMA ia suka berbisnis dan bekerja membuat beragam poster iklan dan melukis wajah. Pekerjaan professional terakhirnya adalah Creative Director di salah satu kantor Digital Agency yang ada di Yogyakarta. Kegemaran lainnya bermain musik hingga konser di beberapa kota besar.

Tahun 2019 ia mulai membuat karya-karya lukisan yang mengarah ke bentuk abstrak. Hingga karya-karya lukisan yang dipersiapkan dalam pameran tunggalnya kali ini dimantafkannya bergaya abstrak.

Miftah suka berpuisi, beberapa karya lukisan yang dipamerkan kali ini berlatarkan puisi. Puisi memang identik dengan lukisan abstrak. Melalui lukisan abstrak, Miftah mengekspresikan pengalamannya melalui sapuan kuwas, kerokan pallete, garis-garis dan cipratan-cipratan ekspresif, juga grafiti-grafiti puitisnya.

Leave a Comment